![]() |
| Cover Majalah Kebudayaan Toraja |
Sejarah
Nama Toraja pertama kali diberikan oleh suku Bugis Sidenreng yang menyebut penduduk yang tinggal di daerah ini sebagai "Riaja" (orang yang mendiami daerah pegunungan). Sementara rakyat Luwu menyebut mereka, "Riajang" (orang-orang yang mendiami daerah barat). Versi lain mengatakan bahwa Toraja dari kata 'Toraya' (Tau: orang, dan raya atau maraya: besar), gabungan dua kata ini memberi arti "orang-orang hebat" atau "manusia mulia". Berikutnya istilah yang lebih sering dipakai adalah sebutan Toraja, kata "tana" sendiri berarti daerah. Penduduk dan wilayah Toraja pun akhirnya dikenal dengan Tana Toraja.
Masyarakat Toraja menganut "aluk"
atau adat yang merupakan kepercayaan, aturan, dan ritual tradisional
ketat yang ditentukan oleh nenek moyangnya. Meskipun saat ini mayoritas
masyarakat Toraja banyak yang memeluk agama Protestan atau Katolik
tetapi tradisi-tradisi leluhur dan upacara ritual masih terus
dipraktekkan.
Masyarakat Toraja membuat pemisahan yang
jelas antara upacara dan ritual yang terkait dengan kehidupan dan
kematian. Hal ini karena ritual-ritual tersebut berterkaitan dengan
musim tanam dan panen. Masyarakat Toraja sendiri mengolah sawahnya
dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi batangnya. Di sepanjang
jalan akan Anda temui padi dijemur dimana batangnya diikat dan ditumpuk
ke atas. Padi dengan tangkainya tersebut disimpan di lumbung khusus yang
dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang kerbau
dibagian sampingnya.
Tana Toraja memiliki dua jenis upacara
adat yang populer yaitu Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah
upacara pemakaman, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara atas rumah adat
yang baru direnovasi.
Khusus Rambu Solo, masyarakat Toraja
percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal
tersebut akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang
ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang
sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih
hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam
sesajian lainnya.Upacara pemakaman Rambu Solok adalah rangkaian kegiatan
yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap,
tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur
atau tongkonan. Puncak upacara Rambu Solok biasanya berlangsung pada
bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh
Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara
ini. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan
wisatawan mancanegara.
Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo)
ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat
rohnya untuk sampai menuju nirwana. Bagi kalangan dari bangsawan yang
meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor
sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu diantaranya bahkan
kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara pemotongan ini
merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher
kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan lalu
kerbau pun langsung terkapar bermandikan darah beberapa saat kemudian.
Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas
kecil dimana anak-anak yang sudah menikah meninggalkan orangtua mereka
dan memulai hidup baru ditempat lain. Meski anak mengikuti garis
keturunan ayah dan ibunya tetapi mereka semua merupakan satu keluarga
besar yang tinggal di satu rumah leluhur (tongkonan). Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan
sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Oleh karena
itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang
hubungan mereka dengan leluhur.
Menurut d sejarah, penduduk yang pertama-tama menduduki/mendiami daerah
Toraja pada zaman purba adalah penduduk yang bergerak dari arah Selatan
dengan perahu. Mereka datang dalam bentuk kelompok yang dinamai Arroan
(kelompok manusia). Setiap Arroan dipimpin oleh seorang pemimpin yang
dinamai Ambe' Saroan (Ambe' = bapak, Saroan = kelompok). Setelah itu
datang penguasa baru yang dikenal dalam sejarah Toraja dengan nama Puang
Lembang yang artinya pemilik perahu, karena mereka datang dengan
mempergunakan perahu menyusuri sungai-sungai besar. Pada waktu perahu
mereka sudah tidak dapat diteruskan karena derasnya air sungai dan
bebatuan, maka mereka membongkar perahunya untuk dijadikan tempat
tinggal sementara. Tempat mereka menambatkan perahunya dan membuat rumah
pertama kali dinamai Bamba Puang artinya pangkalan pusat pemilik perahu
sampai sekarang. Hingga kini kita akan melihat disekitar Ranteapo
terdapat beberapa Bamba Puang milik keluarga keluarga paling berpengaruh
dan terkaya disitu yang mendirikan Tongkonan (rumah adat Tator) beserta
belasan lumbung padinya. Setiap Tongkonan satu keluarga besar dihiasi
oleh puluhan tanduk kerbau yg dipakai untuk menjelaskan status sosial
dalam strata masyarakat adat. Tongkonan itulah yang menjadi atraksi
budaya dan menjadi obyek foto ratusan turis yang mendatangi Toraja.
Toraja aslinya mempunyai nama tua yang dikatakan dalam literatur kuno
mereka sebagai "Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo" , yang berarti
negeri dengan pemerintahan dan masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh
bulat seperti bulatnya matahari dan bulan. Agama asli nenek moyang
mereka adalah Aluk Todolo yang berasal dari sumber Negeri Marinding
Banua Puan yang dikenal dengan sebutan Aluk Pitung Sa'bu Pitung Pulo.
Ketika Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser oleh missionaris
Kristen yang menyebarkan agama diwilayah ini. Namun adat istiadat yang
berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih dijalankan. Kita masih
akan menikmati pertunjukan upacara kematian masyarakat Toraja sebagai
pengaruh kuat dari agama nenek moyang mereka.
Kata Toraja itu sendiri berasal dari bahasa Bugis to riaja, yang berarti ‘orang yang berdiam di negeri atas’.
KEBUDAYAAN TORAJA
Tongkonan
| Tiga tongkonan di desa Toraja |
Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan
kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata
"tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang
berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual
suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut
serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur
mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di
surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia
meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.
Ukiran kayu
|
Ukiran kayu Toraja: setiap panel melambangkan niat baik.
|
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Untuk
menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu
dan menyebutnya Pa'ssura (atau "tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan.
Tanah Toraja sendiri kini terbagi dalam
dua wilayah Kabupaten, yaitu Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan
Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao.
Tempat Wisata di Toraja
1. Museum Ne' Gandeng
Lokasinya berada di tengah sawah, di Desa Palangi, Kecamatan Sa'dan Balusu.
Wisatawan akan melewati Jembatan Ne' Gandeng yang dibangun oleh Yayasan Keluarga Besar Ne' Gandeng. Ditambah lagi pemandangan sawah di kiri-kanan jalan begitu memesona.
Lokasinya berada di tengah sawah, di Desa Palangi, Kecamatan Sa'dan Balusu.
Wisatawan akan melewati Jembatan Ne' Gandeng yang dibangun oleh Yayasan Keluarga Besar Ne' Gandeng. Ditambah lagi pemandangan sawah di kiri-kanan jalan begitu memesona.
tempat ini awalnya merupakan tempat pelaksanaan prosesi pemakaman Ne’
Gandeng yang meninggal pada tanggal 3 Agustus 1994. Menurut Petrus, ide
pembangunan tempat ini yakni manusia Toraja sangat menghormati para
leluhurnya. Semasa hidup Ne' Gandeng sangat memperhatikan kehidupan
masyarakat sekitar. "Bahkan Ne' Gandeng usulkan listrik masuk desa dan
biayanya dari menjual kerbau," tutur Petrus.Di Museum Ne' Gandeng, wisatawan akan menemukan pondok permanen yang berbentuk rumah adat Toraja. Pondok ini dimasudkan sebagai tempat menginap keluarga dan tamu yang datang melayat.
2. Pallawa
Yang
unik, di bagian depan terdapat susunan tanduk kerbau. Bagian dalam
ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga
sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Sebelah kanan rumah adat
Toraja biasanya ada lumbung. Kadang bangunan lumbung lebih bagus
ketimbang rumah tempat tinggal.
Kuburan batu di Tinambayo Lempo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Selama perjalanan menuju
Batutumonga, kami singgah di Deri 1 dan Tinambayo Lempo. Di sini
terhampar sawah yang luas dan batu-batu besar teronggok di sembarang
tempat. Keberadaan batu-batu besar ini bagi warga Toraja dijadikan
sebagai liang atau kuburan batu. Biasanya satu keluarga memiliki satu
tempat khusus.
Batutumonga terletak sekitar 24 km dari Kota Rantepao, lokasinya di lereng Gunung Sesean. Dari sini, wisatawan bisa melihat panorama alam yang sangat indah, seperti hamparan sawah yang tersusun rapi atau mirip dengan persawahan di Bali, dan Kota Rantepao dilihat dengan jelas.
Batutumonga terletak sekitar 24 km dari Kota Rantepao, lokasinya di lereng Gunung Sesean. Dari sini, wisatawan bisa melihat panorama alam yang sangat indah, seperti hamparan sawah yang tersusun rapi atau mirip dengan persawahan di Bali, dan Kota Rantepao dilihat dengan jelas.
Panorama alam dan hamparan sawah di Batutumonga, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.4. Bori
Megalit Kalimbuang Bori, Kecamatan Sesean. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000 per orang, wisatawan akan memasuki Situs purbakala Bori Parinding yakni kawasan kuburan batu dan rante yakni lapangan rumput yang khusus digunakan untuk upacara penguburan. Tempat ini juga dipenuhi batu menhir (batu berdiri).
Megalit Kalimbuang Bori, di Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. 5. Ranteallo
Di Ranteallo, Kecamatan Tallunglipu ini, wisatawan akan menemukan rumah adat Toraja yang posisinya saling berhadap-hadapan. Yang unik, di rumah-rumah warga yanag berada di belakang rumah adat ditemukan kandang babi dan kerbau.
Kerbau belang di Ranteallo untuk upacara adat masyarakat Toraja. Harga sekitar Rp 500 juta sampai Rp 600 juta.6. Kete Kesu
Dikenal sebagai desa wisata di Kabupaten Toraja Utara. Letak Kete Kesu sekitar 4 kilometer sebelah tenggara Rantepao. Di Kete Kesu terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Teruslah berjalan mendekati tebing dan menaiki tangga.
Objek wisata Kete Kesu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Di sini terdapat kuburan batu yang diperkirakan berusia
ratusan tahun.Beberapa makam adat di Kete Kesu terlihat ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah pencurian patung jenazah adat. Beberapa jenazah dapat dilihat jelas dari luar bersama dengan harta yang dikuburkan di dalamnya. Peti mati tradisional di Kete Kesu tidak hanya berbentuk seperti perahu, namun juga ada yang berbentuk kerbau dan babi dengan pahatan atau ukiran rapi.
Kuburan batu yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Kete Kesu,
Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Senin (17/11/2014).Bulan Desember merupakan puncak festival di Toraja, termasuk di Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja, di mana akan digelar "Lovely December" pada akhir Desember. Biasanya kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri akan membeludak datang ke Toraja dan hotel-hotel diperkirakan penuh tamu.
Sa'dan
![]() |
| proses penenunan |
Terletak di distrik Sesean di daerah timur laut Rantepao, Sa'dan To'Barana selama bertahun-tahun telah dikenal sebagai daerah tenun traditional Toraja . Dengan menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana, para wanita terampil dalam To'Barana 'mampu menghasilkan 1 sampai 1,5 meter dari karya mereka yang luar biasa dalam sehari. Bahan tenun ini dibuat menjadi pakaian. Warna khas Toraja biru, merah, kuning dan putih dan desain Toraja yang unik menarik wisatawan dan pengunjung dari dekat dan jauh






0 komentar:
Posting Komentar